Bacaan 1: Mengapa Literasi itu Penting untuk Generasi Indonesia?
Taufiq Ismail pernah menyebutkan kondisi di Indonesia dengan istilah
“tragedi nol buku” yaitu
generasi yang tidak membaca satu pun buku dalam satu tahun, generasi yang rabun
membaca, dan lumpuh menulis. Rata-rata
lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku,
Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan
Indonesia nol buku.
Hal tersebut mencerminkan bangsa Indonesia memiliki
kemampuan membaca dan menulis yang sangat rendah. Kegiatan membaca
dan menulis tampaknya memang belum
menjadi budaya bangsa kita. Masyarakat lebih suka menonton atau mendengar
dibandingkan membaca apalagi menulis.
Hal ini diperkuat oleh data statistik UNESCO yang
dilansir tahun 2012) menyebutkan
indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000
penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.
Berdasarkan hasil studi Most Littered Nation In the World yang
dilakukan oleh Central Connecticut State
Univesity) pada
Maret 2016 lalu menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat
ke-60 dari 61 negara soal minat membaca
dan menulis. Keterampilan dalam membaca dan menulis disebut dengan istilah
literasi. Literasi dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia bermakna hal yang berhubungan dengan tradisi baca dan
tulis.
Bagi masyarakat barat, membaca buku di
dalam bus atau di kereta itu pemandangan biasaa. Hal itu jarang ditemukan di
Indonesia. Sebab,manusia-manusia yang dihasilkan oleh persekolahan di Indonesia
masih merupakan masyarakat aliterat, yakni manusia-manusia yang bisa membaca, tetapi lebih memilih untuk
tidak membaca.
Purwanto (2007) mengemukakan bahwa
faktor penyebab rendahnya kemampuan membaca adalah tradisi kelisanan (orality) yang masih mengakar di
masyarakat. Masyarakat tempo dulu lebih memanjakan tradisi lisan (omong-dengar)
daripada tradisi literasi (baca-tulis). Selain itu, sistem persekolahan masih
kurang memberi peluang bagi tradisi literasi kepada peserta didik. Model
pengajaran di kelas umumnya guru masih terlalu banyak bicara, sedangkan siswa
terlalu sukar
menjadi pendengar. Guru jarang menjadikan kegiatan membaca sebagai kerangka
berpijak (frame of reference) dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, berbagai
pendekatan pendidikan dihadirkan guna
menuntaskan permasalahan literasi tersebut.
Berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan program pendidikan yang diberi nama
Gerakan Literasi Sekolah. Menurut Dirjen Pendidikan Menengah (2016:5), literasi
lebih dari sekadar membaca dan menulis, tetapi mencakup pula pada keterampilan
berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual,
digital, dan auditori sehinggga kemampuan ini disebut dengan literasi
informasi. Komponen dalam literasi informasi tersebut berupa literasi dasar,
literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual.
Tujuan
gerakan literasi sekolah secara umum adalah menumbuhkan budi pekerti peserta
didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujdukan dalam
gerakan literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tujuan
khusus dari gerakan literasi sekolah adalah (1) menumbuhkembangkan budaya
literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga
dan lingkungan sekolah agar terlihat literat, (3) menjadikan sekolah sebagai
teman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga mampu mengelola pengetahuan,
dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku
bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
SUMBER BACAAN
_.
2016. “Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah: Handout Pedampingan
Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2016. Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
_.2016.
“Gerakan Indonesia Membaca: Menumbuhkan Budaya Membaca”. http://www.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/bindikmas/berita/gerakan-indonesia-membaca-menumbuhkan-budaya-membaca.
Diakses pada 14 Februari 2017.
Gewati,
Mikhael. 2016. “Minat Baca Indonesia Ada di Urutan Ke-60 Dunia”. http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia.
Diakses pada 14 Februari 2017.
Puwanto,
Wachid Eko. 2007. “Menghidupi Tradisi Literasi: Problematika bagi Siswa, Guru,
Sekolah, dan Negara” http://www.titikoma.com/esai.
Diakses pada 14 Februari 2017.
SUMBER GAMBAR
http://raihanarasyid.gurusiana.id/article/ketika-masih-ada-yang-bertanya-tentang-gerakan-literasi-sekolah-13938. Diakses pada 28 Juli 2019.

Komentar
Posting Komentar